Semester ganjil yang lalu saya sempat belajar dengan salah satu profesor terkemuka di kampus di mana saya kuliah, saya merupakan salah satu pengagum berat profesor –profesor indonesia siapapun itu, karna bagi saya profesor selalu memberikan dinamika berpikir yang unik dan berbeda dari orang-orang kebanyakan dan profesor menurut saya adalah dia yang selalu bijak dalam melakukan perbuatan dan perkataan atau sesuai dengan “prinsif kebenaran dimana ide sama dengan realitas, artinya perkataan selaras dengan perbuatan”. Mengacu pada tarap pendidikan sang profesor yang hampir seluruh hidupnya ia abdikan pada pendidikan ia telah mengarungi samudra keilmuan baik itu bidang ilmu yang memang ie tekuni maupun pengetahuan di luar keilmuan yang ditekuni, seorang profesor adalah simbol intelektual di muka bumi.
Itu semua terbalik dengan realitas sebenarnya ketika saya mendapatkan mata kuliah metodelogi penelitian barulah saya menyadari ternyata sang profesor yang saya kagumi dan bangggakan jauh dari apa yang saya bayangkan, bijaksana, eskalasi berpikir yang unik, rasional, dan mudah diterima. Anggap saja sang profesor bernama “ice” ibu ice ini adalah salah satu dekan fakultas ekonomi dan merupakan guru besar di bidang EKONOMI, tetapi masih mengajar mata kuliah lain seperti metodelogi, penelitian, e-business, akuntansi, perpajakan dan lain-lain.
Yang saya sayangkan adalah ketika sang profesor bicara kadang menyakiti perasaan sang mahasiswa dan termasuk saya adalah salah satu korban omongan liarnya yang menyakitkan dan saya itu tidak pantas bagi seorang profesor dimana ia mengatakan tidak sesuai dengan realitas dan hanya bicara atas presfektif indra, mungkin kita tahu dalam kajian filsafat ilmu bahwa indra kadang menipu..! dan selain omongannya yang tajam setajam pisau ia juga mempunyai kebiasaan inkonsistensi ketika bicara, hari ini ngomong A esok B, C atau Z. Saya rasa inkonsistensi memang wajar kalau itu terjadi hanya satu atau dua kali karna manusia adalah tempatnya kesalahan dan lupa, tetapi ini berkali-kali bahkan berpuluh-puluh. Masih terngiang ditelinga saya ketika ia bicara “kalau kalian ikut study tour maka minimal B ditangan” nyatanya itu hanya isapan jempol belaka saya dan rekan-rekan mendapatkan nilai dibawah standart yang ia sendiri tetapkan. Saya sempar berprasangka negatif mungkin profesor ice ini tidak pernah membaca filsafat ilmu jadi ia mungkin lupa bagai mana sebenarnya landasan berpikir itu seperti apa. Dan menurut saya seharusnya ia membaca kembali catatan-catatan dalam dirinya ( introspeksi diri ) atau bertanya kepada hatinya seberapa damaikah ia dengan hatinya ( mengenal diri )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar