Selasa, 14 Februari 2012

Meraba Masa Depan Unikom(insfrastruktur dan suprastuktur )

Oleh : Usup Suparman[i]

“Seribu pahlawan bisa lahir dan mati dalam satu hari di negeri ini. Tetapi tak seorang pun ada

yang peduli di tanah air kita ini….Dulu dalam kegelapan, seekor kunang-kunang pun bisa

menjadi bintang. Sekarang bintang-bintang yang lahir malah dipadamkan.”

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam

masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

(Pramoedya Ananta Toer)

Meraba dalam arti sebenarnya adalah menyentuh memegang atau menjamah, tetapi bahasan kita kali ini bukan untuk memegang atau menjamah tapi untuk menerawang masa depan unikom kedepan. Masa depan yang dari apa yang kita pikirkan hari ini, karna sejatinya masa depan adalah sesuatu yang misteri sama halnya seperti hidup manusia hari ini adalah realita esok hari adalah angan-angan.

Untuk dapat melanggengkan Eksistensi unikom ke depan (masa depan) maka yang harus di lakukan oleh kampus Unikom adalah bagaimana lulusan Unikom dapat berkompetensi di luar sana, berkompetensi bukan hanya menjadi budak kapitalisme tetapi melakukan sebuah dobrakan-dobrakan di kalangan masyarakat melalui ide-ide cemerlangnya sebagai lulusan Universitas. Baik melalui wirasusaha atau pun melalui bidang pendidikan (berupa pengabdian kepada masyarakat). Terlebih basic kampus kita adalah teknologi jadi bukanlah sesuatu yang mustahil apabila kita selalu memadukan bidang ke-ilmuan dengan teknologi, seperti tecnopleneurship dan lainnya

Infrastruktur dan suprastruktur

Maka untuk dapat melahirkan sarjana-sarjana yang berkompeten di bidangnya, kampus juga memiliki kewajiban untuk membangun infrastruktuk dan suprastruktur. Sebagai mana yang di kemukakan oleh marx : Infrastruktur dan suprastruktur adalah ‘metafor bangunan’ yang digunakan untuk melihat unsur-unsurdalam struktur masyarakat beserta hubungan mereka. Infrastruktur di sini merujuk ke ‘basis kampus, fasilitas, tenaga pengajar, segala bentuk kewajiban yang harus diberikan kepada mahasiswa, sementara suprastruktur, terdiri dari dua unsur, yaitu legal-politis (negara danhukum) serta ideologi atau basis kritis yang harus dibangun dikalangan civitas akademik dimulai dari HIMA-HIMA dan UKM, individu-individu mahasiswa dan dosen sebagai stimulus untuk membangun basis kritis,

Adapun hubungan antara infrastruktur dengan suprastruktur, sesuai dengan metafor bangunan, adalahbahwa basis kampus (infrastruktur), merupakan fondasi bangunannya, sementara dua unsur suprastruktur, yaitu basis kritis, adalah ’lantai atasnya’ yang tidak dapat berdiri tanpa fondasinya. Di sebagian kalanganMarxis, hubungan ini ditafsirkan sebagai ’determinasi satu-arah,’ di mana basis ekonomi menentukansuprastruktur yang bersifat pasif.

Inilah yang menjadi fokus kita bersama, (Unikom) masih kurang menyediakan ruang atau forsi “suprastruktur” kepada mahasiswa pada umumnya. Inilah awal kebangkitan kami forum mahasiswa unikom sebagai suprastruktur “basis kritis” mahasiswa, melalui kajian-kajian sosio-politik-budaya, forum ini insya allah akan melahirkan orang-orang kritis dimasa depan dan menjadi ruh Unikom yang menerapkan nilai-nilai kebenaran universal serta tidak melupakan spirit almamater “quality is our tradition” atau pun budaya yang baru diterapkan PIQIE (......????)

Membangun Paradigma Mahasiswa

Tidak dapat dipungkiri kebanyakan mahasiswa kita (rekan-rekan) telampau banyak yang tidak peduli akan Gelarnya sebagai mahasiswa apatis dan terlampau banyak juga mahasiswa kita yang lebih senang berfoya-foya hedonis dan itulah paradigma yang umumnya berkembang di si “BIRU” (: sebutan almamater). Untuk merubah paradigma yang kebanyakan dipakai oleh mahasiswa pada umumnya memang sangat sulit dan memerlukan waktu. Tetapi dengan hadirnya di ruangan ini kita telah membangun sebuah paradigma baru. Kita terlepas dari paradigma kaum-kaum seperti kebanyakan, kita adalah pilar-pilar suprastruktur basis kritis. Dan inilah paradigma kita sebagai kaum intelektual.

Menguti apa yang di tulis marx : “TAK ADA tatanan sosial yang dapat diruntuhkan sebelum semua tenaga produktif yang diperlukanberkembang, dan relasi produksi baru yang lebih tinggi tak akan menggantikan yang lama sebelumpersyaratan material bagi keberadaannya telah matang di dalam kerangka masyarakat lama,”

Kita adalah agen peruntuh sosio kultural yang tidak produktif, sudah saatnya kita runtuhkan tatanan paradigma Ortodoks-apatis-hedonis dikalangan mahasiswa menjadi paradigma baru progresif-dinamis-kritis.

Menerawang penokohan unikom

Unikom selama ini telah meluluskan ribuan sarjana di bidangnya masing-masing mulai dari teknik informatika yang sangat masif melahirkan sarjana-sarjana baru dan ilmu pemerintahan atau hukum yang dipandang sebelah mata karna memang kalah kuantitas dibandingkan fakultas teknikYang menjadi icon unikom. Pertanyaannya adalah apakah ada satu orang yang menjadi trend setter dari ribuan lulusan unikom tadi yang menjadi tokoh Muda dalam bidang IT atau kajian keilmuan lainnya. sebagai makna spirit unikom. “quality is our tradition” lantas kemanakah quality-quality ini.?

Apakah quality ini sudah tergerus oleh arus informasi dan kapitalisme global.?



[i] Penulis adalah mahasiswa sistem informasi, yang juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Unikom, serta Forum Mahasiswa Unikom, pencinta keindahan pengagum karl marx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar