A Long Odyssey
sebuah perjalanan menuju kesempurnaan..!
Kamis, 03 Mei 2012
sebuah panggilan dari masa lalu
Selasa, 14 Februari 2012
Meraba Masa Depan Unikom(insfrastruktur dan suprastuktur )
Oleh : Usup Suparman[i]
“Seribu pahlawan bisa lahir dan mati dalam satu hari di negeri ini. Tetapi tak seorang pun ada
yang peduli di tanah air kita ini….Dulu dalam kegelapan, seekor kunang-kunang pun bisa
menjadi bintang. Sekarang bintang-bintang yang lahir malah dipadamkan.”
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)
Meraba dalam arti sebenarnya adalah menyentuh memegang atau menjamah, tetapi bahasan kita kali ini bukan untuk memegang atau menjamah tapi untuk menerawang masa depan unikom kedepan. Masa depan yang dari apa yang kita pikirkan hari ini, karna sejatinya masa depan adalah sesuatu yang misteri sama halnya seperti hidup manusia hari ini adalah realita esok hari adalah angan-angan.
Untuk dapat melanggengkan Eksistensi unikom ke depan (masa depan) maka yang harus di lakukan oleh kampus Unikom adalah bagaimana lulusan Unikom dapat berkompetensi di luar sana, berkompetensi bukan hanya menjadi budak kapitalisme tetapi melakukan sebuah dobrakan-dobrakan di kalangan masyarakat melalui ide-ide cemerlangnya sebagai lulusan Universitas. Baik melalui wirasusaha atau pun melalui bidang pendidikan (berupa pengabdian kepada masyarakat). Terlebih basic kampus kita adalah teknologi jadi bukanlah sesuatu yang mustahil apabila kita selalu memadukan bidang ke-ilmuan dengan teknologi, seperti tecnopleneurship dan lainnya
Infrastruktur dan suprastruktur
Maka untuk dapat melahirkan sarjana-sarjana yang berkompeten di bidangnya, kampus juga memiliki kewajiban untuk membangun infrastruktuk dan suprastruktur. Sebagai mana yang di kemukakan oleh marx : Infrastruktur dan suprastruktur adalah ‘metafor bangunan’ yang digunakan untuk melihat unsur-unsurdalam struktur masyarakat beserta hubungan mereka. Infrastruktur di sini merujuk ke ‘basis kampus, fasilitas, tenaga pengajar, segala bentuk kewajiban yang harus diberikan kepada mahasiswa, sementara suprastruktur, terdiri dari dua unsur, yaitu legal-politis (negara danhukum) serta ideologi atau basis kritis yang harus dibangun dikalangan civitas akademik dimulai dari HIMA-HIMA dan UKM, individu-individu mahasiswa dan dosen sebagai stimulus untuk membangun basis kritis,
Adapun hubungan antara infrastruktur dengan suprastruktur, sesuai dengan metafor bangunan, adalahbahwa basis kampus (infrastruktur), merupakan fondasi bangunannya, sementara dua unsur suprastruktur, yaitu basis kritis, adalah ’lantai atasnya’ yang tidak dapat berdiri tanpa fondasinya. Di sebagian kalanganMarxis, hubungan ini ditafsirkan sebagai ’determinasi satu-arah,’ di mana basis ekonomi menentukansuprastruktur yang bersifat pasif.
Inilah yang menjadi fokus kita bersama, (Unikom) masih kurang menyediakan ruang atau forsi “suprastruktur” kepada mahasiswa pada umumnya. Inilah awal kebangkitan kami forum mahasiswa unikom sebagai suprastruktur “basis kritis” mahasiswa, melalui kajian-kajian sosio-politik-budaya, forum ini insya allah akan melahirkan orang-orang kritis dimasa depan dan menjadi ruh Unikom yang menerapkan nilai-nilai kebenaran universal serta tidak melupakan spirit almamater “quality is our tradition” atau pun budaya yang baru diterapkan PIQIE (......????)
Membangun Paradigma Mahasiswa
Tidak dapat dipungkiri kebanyakan mahasiswa kita (rekan-rekan) telampau banyak yang tidak peduli akan Gelarnya sebagai mahasiswa apatis dan terlampau banyak juga mahasiswa kita yang lebih senang berfoya-foya hedonis dan itulah paradigma yang umumnya berkembang di si “BIRU” (: sebutan almamater). Untuk merubah paradigma yang kebanyakan dipakai oleh mahasiswa pada umumnya memang sangat sulit dan memerlukan waktu. Tetapi dengan hadirnya di ruangan ini kita telah membangun sebuah paradigma baru. Kita terlepas dari paradigma kaum-kaum seperti kebanyakan, kita adalah pilar-pilar suprastruktur basis kritis. Dan inilah paradigma kita sebagai kaum intelektual.
Menguti apa yang di tulis marx : “TAK ADA tatanan sosial yang dapat diruntuhkan sebelum semua tenaga produktif yang diperlukanberkembang, dan relasi produksi baru yang lebih tinggi tak akan menggantikan yang lama sebelumpersyaratan material bagi keberadaannya telah matang di dalam kerangka masyarakat lama,”
Kita adalah agen peruntuh sosio kultural yang tidak produktif, sudah saatnya kita runtuhkan tatanan paradigma Ortodoks-apatis-hedonis dikalangan mahasiswa menjadi paradigma baru progresif-dinamis-kritis.
Menerawang penokohan unikom
Unikom selama ini telah meluluskan ribuan sarjana di bidangnya masing-masing mulai dari teknik informatika yang sangat masif melahirkan sarjana-sarjana baru dan ilmu pemerintahan atau hukum yang dipandang sebelah mata karna memang kalah kuantitas dibandingkan fakultas teknikYang menjadi icon unikom. Pertanyaannya adalah apakah ada satu orang yang menjadi trend setter dari ribuan lulusan unikom tadi yang menjadi tokoh Muda dalam bidang IT atau kajian keilmuan lainnya. sebagai makna spirit unikom. “quality is our tradition” lantas kemanakah quality-quality ini.?
Apakah quality ini sudah tergerus oleh arus informasi dan kapitalisme global.?
[i] Penulis adalah mahasiswa sistem informasi, yang juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Unikom, serta Forum Mahasiswa Unikom, pencinta keindahan pengagum karl marx
semster 10..! SO what..
Kamis, 22 September 2011
Restorasi peran mahasiswa
R |
estorasi peran mahasiswa sangat lah penting mengingat bangsa kita sangat membutuhkan para kaum akademisi yang akan menjadi tulang punggung bangsa kedepan dimana mahasiswa adalahagent of change atau study today leader tomorrow. Lantas apa yang diharapkan dari restorasi mahasiswa..?
mari kita bersenandung dengan rayap-rayap masa silam, dimana peran pemuda (mahasiswa) sangat menentukan kemerdekaan bangsa ini. Salah satunya adalah Peran boedioetomo mendirikan perkumpulan yang menentang penjajahan, yang sekaligus menjadi arwah perjuangan bangsa ini menggapai kemerdekaan, dan perjuangannya sekarang menjadi hari kebangkitan nasional.
Peran soekarno dan para pejuang yang melawan segala bentuk penindasan dan penjajahan di tanah ibu pertiwi, yang pada akhirnya memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini. Sehingga sekarang kita bisa menjadi bangsa yang utuh dan berdaulat
Peran Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa yang sangat luar biasa, kritis dan keras terhadap segala penindasan dijaman orde lama. Yang menjadi inspirasi para aktifis tahun 70, 80 dan 98.
Peran mahasiswa 1998, yang melengserka Soe Harto dari tahta yang ia huni selama 32 tahun lamanya. Sebuah Perjuangan panjang untuk mengibarkan bendera reformasi.
Lantas ukiran sejarah apa yang akan kita buat.?
“siapa yang peduli 100-200 tahun kita akan mati menjelma tanah sama seperti milyaran orang lainnya. Dilupakan oleh waktu dihidupkan oleh kisah perjuangan” apa yang akan kita buat dengan perjuangan.? Agar hidup kita tak dilupakan waktu. ..!
Selalu kaum muda yang ada dibarisan terdepan dalam membangun bangsa ini, maka yang diperlukan mahasiswa saat ini saya kira bukanlah pembangunan tetapi sebuah restorasi peranan mahasiswa sebagai mana mestinya yaitu : sesuai dengan tridarma perguruan tinggi dimana mahasiswa tidak hanya mendapatkan pendidikan formal di bangku kuliah saja, tetapi ada dua peran yang cenderung dilupakan oleh para kaum akademisi. Yaitu penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat. pengabdian terhadap masyarakat yang mengalami penindasan dan perbuatan kesewenang-wenangan oleh pemerintah yang tidak bertanggun jawab. Mahasiswa juga harus kritis dan berperan aktif dalam gejala sosial yang ada di masyarakat dan mengawal pemerintahan dimana selalu ada kebodohan-kebodohan para penguasa, Korupsi, Moral dan kebodohan lainnya.
Restorasi mahasiswa adalah sebuah keharusan, maka untuk menggapai restorasi mahasiswa ada beberapa solusi yang saya kira sangat substansial..
Pertama semangatnya adalah perbaikan.
Kenapa perbaikan dengan sadar dan rendah hati kita harus mengakui bahwa adanya kekurangan dan kelemahan pada mahasiswa, berdasarkan kelemahan dan kekurangan itulah kita harus melakukan koreksi dan introsfeksi diri diawali dengan diri kita sendiri. Untuk meneguhkan kembali jati diri mahasiswa maka perbaikan menjadi mutlak adanya.
Kedua semangatnya adalah berorganisasi.
Kenapa berorganisasi karna di organisasi lah kita dapat menambah ilmu kepemimpinan, kebersamaan, wawasan, dan pergaulan yang berguna bagi kita sendiri dan bagi orang lain yang tidak kita dapatkan di perkuliahan.
Di eropa sana, ada lembaga yang menyelidiki orang-orang sukses diseluruh dunia yang bernama “bank data raksasa” yang ada di swiss. Mereka menyimpulkan bahwa orang-orang diseluruh dunia yang sukses menggunakan intelegensi quetience (kecerdsan intelektual) yang di dapatkan didala perkuliahan hanya di bawah 8% paling banyak 20%, luar biasa bukan sisanya 80% di raih dengan menggunakan emotional quetience (kecerdasan emosi) dan spiritual quetience (kecerdasan spiritual) yang hanya bisa kita dapatkan didalam organisasi jelas dan ternama seperti Himpunan Mahasiswa Islam, biasa disebut HMI.
Ketiga adalah semangatnya pembaharu
Kenapa pembaharu, karna kita sangat kekurangan kaum muda pembaharu yang akan merestorasi bangsa ini. Pembaharu yang terjun kemasyarakat sehingga menjadikan masyarakat yang makmur, pembaharu yang menjadi pemimpin bangsa yang menjadikan masyarakat adil dan sejahtera, dan pembaharu untuk dirinya sendiri..
Salam mahasiswa..!
Yusuf suparman (PTKP HMI Unikom)